Diduga Oknum Pengusaha Bermain BBM Bersubsidi

Diduga Oknum Pengusaha Bermain BBM Bersubsidi

Kanalvisual.com - Surakarta - Solo Raya - LSM LAPAAN RI kembali menyoroti persoalan kelangkaan BBM bersubsidi di sejumlah SPBU wilayah Solo Raya. Temuan di lapangan menimbulkan dugaan kuat adanya permainan stok yang merugikan masyarakat kecil, terutama pada jam-jam tertentu menjelang waktu Magrib.

Dalam beberapa hari terakhir, tim LAPAAN RI menerima laporan warga yang mengeluhkan bahwa setiap mendekati Adzan Magrib, pembelian Pertalite kerap tidak dilayani. “Kalau mendekati Magrib, petugas bilang habis. Sudah lama seperti ini, bukan di satu pom saja,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Menindaklanjuti laporan itu, tim investigasi LAPAAN RI turun langsung ke beberapa SPBU. Di SPBU Waru, Kebak Kramat, tim kembali mendapat jawaban serupa: Pertalite habis. Situasi yang sama ditemukan di SPBU Gedangan yang masih berada dalam kecamatan yang sama. Konsumen yang ditemui pun membenarkan bahwa kondisi seperti ini terjadi berulang-ulang.

Joni, aktivis LAPAAN RI yang memimpin investigasi, mengatakan fenomena ini tidak hanya terjadi di satu lokasi. “Di Pabelan Kartasura dan Pucang Sawit juga sama. Yang bikin janggal, para karyawan SPBU tampak sangat kompak. Seolah-olah sudah ada pola dan koordinasi,” ujarnya.

Tidak ingin kecolongan, tim lembaga melakukan pemantauan hingga dini hari. Pada pukul 03.37 WIB, salah satu SPBU yang sebelumnya mengaku kehabisan Pertalite ternyata beroperasi normal dan melayani pembelian untuk kelompok tertentu. Lebih mencengangkan lagi, mulai pukul 05.00 WIB antrian justru dipenuhi motor dan mobil pembawa jeriken serta branjang berisi tangki tambahan.

“Kami melihat sendiri. Malam bilang habis, tapi subuh melayani pembelian untuk tengkulak. Ini bukan kelangkaan biasa, tetapi pola yang terstruktur,” tegas Joni.

Temuan serupa juga terjadi di SPBU Sroyo, Jaten, wilayah Ringroad. Warga mengeluhkan bahwa pembelian solar untuk umum selalu ditolak dengan alasan habis, alat rusak, atau berbagai dalih lain yang dinilai tidak masuk akal. Namun, pada pukul 24.00 WIB, tim LAPAAN RI mendapati bus-bus Rosalia Indah mengisi solar di SPBU tersebut tanpa hambatan.

Tim kemudian membagi diri dan bergerak secara penyamaran untuk menggali informasi lebih dalam dari para pengemudi yang biasa membeli BBM dalam jumlah besar. Beberapa informasi yang diperoleh menguatkan dugaan adanya praktik pengaturan stok serta prioritas penjualan kepada pihak-pihak tertentu, bukan kepada konsumen umum.

Dari serangkaian investigasi yang dilakukan sejak Magrib hingga menjelang pagi, LAPAAN RI menyimpulkan bahwa terdapat dugaan kuat permainan oknum pengusaha SPBU dalam penyaluran BBM bersubsidi. Tidak ditemukan adanya pengiriman BBM pada malam hari, yang berarti klaim “habis” diduga hanya alasan untuk mengalihkan penjualan pada jam-jam tertentu kepada pihak yang bukan berhak menerima subsidi.

LAPAAN RI meminta Aparat Penegak Hukum (APH) dan dinas terkait segera mengambil langkah tegas. “Subsidi itu hak masyarakat kecil. Kalau SPBU mempermainkan stok, itu sudah melanggar aturan Pertamina dan pemerintah. Kami tidak akan tinggal diam,” desak Joni.

Tim lembaga juga memastikan akan kembali merilis temuan lanjutan dan menyerahkan hasil investigasi secara resmi kepada instansi terkait. (Wahyudi)