Dari Tatar Sunda untuk Indonesia: Kemerdekaan, Perjuangan, dan Tanggung Jawab Pers di Usia Republik ke-81

Dari Tatar Sunda untuk Indonesia: Kemerdekaan, Perjuangan, dan Tanggung Jawab Pers di Usia Republik ke-81

Oleh: Adung

Kepala Perwakilan Media Kanalvisual

Kanalvisual.com - Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia kembali mengenang sebuah peristiwa agung yang mengubah perjalanan sejarah Nusantara. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 bukan sekadar pembacaan dua alinea teks oleh Soekarno dan Mohammad Hatta, melainkan puncak dari perjuangan panjang rakyat Indonesia yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Di balik lahirnya Republik Indonesia, terdapat pengorbanan yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. Tidak ada satu daerah pun yang dapat mengklaim sebagai pejuang tunggal. Dari Aceh hingga Papua, dari Minangkabau hingga Maluku, seluruh anak bangsa memberikan darah, air mata, pikiran, dan tenaga demi sebuah cita-cita besar: Indonesia Merdeka.

Di antara daerah yang memiliki jejak sejarah besar dalam perjuangan bangsa adalah Tatar Sunda. Tanah Pasundan bukan hanya dikenal sebagai daerah yang kaya akan budaya, bahasa, dan adat istiadat, tetapi juga menjadi salah satu pusat lahirnya tokoh-tokoh nasional serta medan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, masyarakat Sunda telah mengenal nilai-nilai kepemimpinan, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah leluhur. Warisan budaya itu menjadi kekuatan moral ketika kolonialisme Belanda berusaha menguasai Nusantara. Semangat menjaga kehormatan tanah air kemudian diwariskan dari generasi ke generasi hingga memasuki masa pergerakan nasional.

Ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, perjuangan belum selesai. Belanda datang kembali bersama Sekutu dengan membawa misi mengembalikan kekuasaan kolonial di Indonesia. Jawa Barat menjadi salah satu wilayah yang paling sengit mempertahankan kemerdekaan.

Peristiwa Bandung Lautan Api pada 24 Maret 1946 menjadi simbol keberanian rakyat Tatar Sunda. Demi mencegah Kota Bandung dimanfaatkan oleh pasukan Sekutu dan NICA, para pejuang bersama masyarakat memilih membakar sebagian wilayah kota dan meninggalkan rumah-rumah mereka. Pengorbanan itu bukan karena mereka kalah, melainkan karena mereka memilih mempertahankan harga diri bangsa daripada hidup di bawah penjajahan.

Api yang membakar Bandung malam itu tidak hanya menerangi langit Pasundan, tetapi juga membakar semangat perjuangan rakyat Indonesia. Dari peristiwa tersebut, dunia melihat bahwa bangsa Indonesia lebih memilih kehilangan harta benda daripada kehilangan kemerdekaan.

Semangat itu kemudian diteruskan oleh Divisi Siliwangi, salah satu kesatuan militer paling disegani dalam sejarah Republik Indonesia. Melalui Long March Siliwangi, para prajurit menempuh perjalanan yang penuh penderitaan demi mempertahankan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perjalanan panjang itu menjadi bukti bahwa kemerdekaan tidak pernah diperoleh dengan jalan yang mudah.

Tatar Sunda juga melahirkan tokoh-tokoh besar yang memberikan pengabdian luar biasa kepada bangsa. Oto Iskandar di Nata, yang dijuluki Si Jalak Harupat, memperjuangkan hak-hak rakyat hingga dipercaya menjadi Menteri Negara. Ir. H. Djuanda Kartawidjaja melalui Deklarasi Djuanda memperkuat kedaulatan Indonesia sebagai negara kepulauan. Dewi Sartika membuka jalan bagi pendidikan perempuan pribumi, sementara Iwa Kusumasumantri menjadi salah satu tokoh penting dalam pergerakan nasional dan pemerintahan Indonesia.

Mereka membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Ada yang berjuang melalui pendidikan, diplomasi, pemikiran, pemerintahan, hingga pengabdian kepada masyarakat. Semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa yang merdeka.

Memasuki usia ke-81 Republik Indonesia, perjuangan bangsa telah berubah wajah. Kini musuh bukan lagi kolonialisme bersenjata, melainkan kemiskinan, kebodohan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kesenjangan sosial, serta lunturnya rasa persatuan. Tantangan tersebut hanya dapat dihadapi apabila bangsa Indonesia tetap memegang teguh nilai-nilai perjuangan para pendahulu.

Dalam perjalanan bangsa, ada satu elemen yang memiliki peran sangat penting, yaitu pers. Sejarah mencatat bahwa pers merupakan bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Melalui surat kabar, majalah, dan berbagai media perjuangan, semangat nasionalisme disebarkan kepada rakyat. Pers menjadi alat perjuangan, penyampai kebenaran, sekaligus penggerak kesadaran bahwa Indonesia berhak menjadi bangsa yang merdeka.

Namun, setelah lebih dari delapan dekade kemerdekaan, dunia pers menghadapi tantangan baru. Di era digital, informasi bergerak sangat cepat. Berita hadir setiap detik dan dapat diakses hanya melalui layar telepon genggam. Kecepatan menjadi kebutuhan, tetapi di saat yang sama verifikasi dan pendalaman fakta tidak boleh ditinggalkan.

Di tengah perkembangan tersebut, muncul kritik dari masyarakat bahwa sebagian media dinilai terlalu dekat dengan kepentingan politik atau kelompok tertentu. Ada pula pemberitaan yang lebih mengedepankan kecepatan sehingga informasi terasa "siap saji", tetapi belum tentu memberikan ruang yang memadai bagi pendalaman fakta, keberimbangan, dan kepentingan publik.

Kritik tersebut harus menjadi bahan introspeksi bagi insan pers. Namun, penting pula disadari bahwa masih banyak jurnalis dan media yang tetap bekerja dengan menjunjung tinggi independensi, memegang teguh Kode Etik Jurnalistik, melakukan verifikasi, memberikan ruang hak jawab, dan mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan apa pun.

Kemerdekaan pers adalah bagian dari kemerdekaan bangsa. Pers yang merdeka bukanlah pers yang bebas menyebarkan apa saja tanpa tanggung jawab, melainkan pers yang berani menyampaikan kebenaran, mengawasi jalannya pemerintahan, menyuarakan aspirasi rakyat, serta menjaga demokrasi tetap hidup.

Semangat perjuangan rakyat Tatar Sunda mengajarkan bahwa kemerdekaan harus dijaga dengan keberanian dan pengorbanan. Semangat itu pula yang seharusnya menjadi napas bagi insan pers Indonesia. Sebab pena yang jujur akan selalu lebih kuat daripada propaganda, dan berita yang lahir dari fakta akan selalu lebih bermakna daripada informasi yang dibuat demi kepentingan sesaat.

Ketika Sang Saka Merah Putih berkibar pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, bangsa ini tidak hanya merayakan usia, tetapi juga mengenang jasa para pahlawan yang telah mengorbankan segalanya demi kemerdekaan. Dari tanah Tatar Sunda, semangat itu pernah berkobar dan hingga hari ini masih menjadi inspirasi bagi Indonesia.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Semoga semangat perjuangan para pahlawan tetap hidup di setiap hati anak bangsa, dan semoga pers Indonesia terus menjadi penjaga demokrasi, penyampai kebenaran, serta pengawal cita-cita kemerdekaan sebagaimana diamanatkan oleh para pendiri republik.

Merdeka!