Politik Lupa Diri: Ketika Mantan Menteri Menyerang bayangannya Sendiri

Politik Lupa Diri: Ketika Mantan Menteri Menyerang bayangannya Sendiri

Ada satu penyakit lama yang makin sering kambuh di republik ini: amnesia politik.
Gejalanya sederhana — orang yang dulu duduk di kursi kekuasaan, begitu dicopot, langsung berubah jadi komentator moral.
Padahal, jejak tangannya masih tertinggal di hampir setiap keputusan yang kini dia hujat.

Fenomena ini lucu sekaligus menyedihkan.
Lucu karena orang-orang yang dulu bangga berfoto di belakang presiden, sekarang berlomba menuding sang mantan bos.
Menyedihkan karena bangsa ini ternyata gampang lupa siapa yang dulu menari di panggung dan siapa yang sekadar menabuh gendang.

Sebagian dari mereka mungkin merasa “tercerahkan” setelah keluar dari lingkaran istana. Tapi publik berhak bertanya: kenapa kesadaran itu datang setelah jabatan hilang?
Mengapa tidak saat mereka masih punya kuasa dan pena di tangannya?

Inilah wajah lain dari politik kita — di mana rasa terima kasih sering kali hanya hidup selama masa jabatan.
Begitu lampu istana padam, banyak yang buru-buru ganti kostum jadi pengamat, seolah tak pernah ikut menulis bab kebijakan yang kini mereka cemooh.

Saya bukan politisi, hanya rakyat biasa yang menyaksikan semua ini dari luar pagar kekuasaan. Tapi sebagai orang yang masih percaya pada akal sehat, saya merasa perlu menulis: jangan pernah biarkan sejarah dibengkokkan oleh orang-orang yang menyesal terlalu lambat.

Kekuasaan bukan panggung pribadi. Ia lahir dari kepercayaan rakyat, dan siapa pun yang pernah duduk di sana, punya tanggung jawab moral untuk tidak berpura-pura bersih setelah turun dari jabatan.
Menuding ke belakang tidak membuat seseorang tampak suci; justru memperlihatkan betapa ia tak mampu berdamai dengan masa lalunya sendiri.

Mungkin inilah ironi terbesar manusia: diberi kepercayaan, tapi lupa asalnya.
Dipuji saat berkuasa, tapi menyerang setelah kehilangan cahaya.

Dan buat para pemimpin yang masih aktif hari ini, catatlah baik-baik:
Jabatan hanya sementara, tapi sikap dan ingatan publik jauh lebih lama usianya.
Jangan heran bila suatu hari sejarah mencatat siapa yang bekerja, siapa yang berkhianat, dan siapa yang berpura-pura lupa.

Tri wahyudi - Kaperwil Riau