Ningrat dan Waktu yang Terus Bergerak

Ningrat dan Waktu yang Terus Bergerak

Oleh: Tri Wahyudi, Aktivis - Peduli Bumi Pertiwi

Dalam budaya Jawa, ningrat bukan sekadar gelar turunan. Ia adalah tanggung jawab batin. Di balik nama-nama berdarah biru, tersimpan ajaran tentang sabda yang dijaga, tindak yang ditata, dan rasa yang ditundukkan demi martabat.

Namun waktu tak bisa dibekukan oleh silsilah. Zaman bergerak. Dunia digital, media sosial, dan demokrasi informasi telah menggusur banyak pakem yang dulu dianggap mutlak. Sabda yang dulu tak bisa dibantah, kini bisa dibalas komentar — bahkan dengan sindiran atau cemooh. Dunia berubah dari monolog menjadi dialog. Dan dalam dialog, tidak ada takhta.

Di tengah perubahan itu, kita melihat bagaimana sebagian ningrat — termasuk mereka yang aktif di ruang publik seperti Roy Suryo — menghadapi tantangan zaman. Ia, seperti yang dikenal publik, berasal dari garis keturunan Pakualaman Yogyakarta. Gelar kebangsawanannya resmi dan sah. Tapi ketika ia masuk ke dunia politik, menjadi menteri, tampil sebagai “pakar” di media, lalu aktif di media sosial — ia bukan lagi sekadar bangsawan. Ia menjadi figur publik yang bisa dinilai oleh siapa pun.

Masalah muncul saat cara berpikir aristokratik bertemu dunia egaliter. Ketika merasa benar adalah harga diri, bukan ruang diskusi. Ketika gengsi mengalahkan introspeksi. Ketika unggahan menjadi sabda, dan kritik dianggap serangan terhadap kehormatan.

Roy Suryo bukan satu-satunya yang terjebak di situ. Tapi ia contoh paling kasatmata bagaimana “habitus ningrat” bisa keliru dibawa keluar dari konteks budaya asalnya. Di luar keraton, sabda butuh logika. Di ruang publik, gelar harus disertai sikap.

Di Jawa, seorang ningrat sejak kecil diajari untuk menyimpan amarah, menyaring ucapan, dan tidak mudah tergerak oleh angin luar. Laku prihatin, kawicaksanan, dan andhap asor menjadi ajaran turun-temurun. Tapi nilai-nilai ini bukan sekadar dogma; ia seharusnya menjadi laku hidup sehari-hari — terutama saat seseorang berada di tengah masyarakat luas.

Sayangnya, tidak semua pewaris darah biru membawa warisan itu dengan utuh. Di era media sosial, di mana batas antara ruang pribadi dan ruang publik nyaris hilang, banyak yang tergoda untuk mengejar eksistensi daripada keteladanan. Terlalu cepat bersuara, terlalu reaktif terhadap kritik, terlalu sibuk membuktikan dirinya benar.

Roy Suryo, sebagai salah satu tokoh publik dari kalangan ningrat, mungkin tidak menyadari bahwa setiap tindak-tanduknya akan dibaca bukan hanya sebagai individu, tapi juga sebagai representasi warisan budaya. Ketika ia menolak kritik, membantah kesalahan, atau menyulut kontroversi demi panggung, yang tercoreng bukan hanya namanya — tapi juga simbol yang ia bawa di pundaknya.

Karena dalam masyarakat Jawa, gelar bukan perlindungan — tapi beban kehormatan.

Gelar ningrat bukan alasan untuk merasa lebih tinggi, tetapi justru pangeling-eling: agar semakin hati-hati melangkah, berbicara, dan bertindak. Ningrat bukan berarti tak boleh dikritik, tapi seharusnya menjadi yang paling bijak saat dikritik.

Zaman ini menuntut kerendahan hati lebih besar daripada kebesaran nama. Masyarakat modern lebih menghargai kejujuran dan ketulusan, daripada silsilah dan simbol. Itulah mengapa, banyak tokoh besar dari latar biasa kini lebih dihormati, karena mereka paham bahwa kewibawaan sejati lahir dari laku — bukan dari darah.

Roy Suryo hanyalah contoh. Ada banyak bangsawan lain yang mampu berjalan berdampingan dengan zaman, menyatu dengan rakyat, dan tetap menjaga martabat. Tapi ada pula yang masih terjebak dalam romantisme kekuasaan lama, berharap dunia tetap tunduk pada sabdanya.

Padahal dunia tidak tunduk lagi. Dunia kini menatap — menilai — dan mencatat. Dan waktu tak pernah menoleh ke belakang.