Simfoni Kehancuran: Ketika Dasimu Lebih Tajam dari Mata Gergaji
Opini Publik
Oleh: Tri Wahyudi
Ada sebuah ironi yang begitu purba namun dikemas dalam estetika modern yang menggelikan: sekelompok pria berbalut jas necis, sepatu mengkilap, berdiri gagah di tengah rimba sembari menenteng gergaji mesin. Dalam gambar tersebut, mereka bukan penebang liar yang berlumur peluh dan lumpur demi sesuap nasi. Bukan. Mereka adalah representasi dari "tangan-tangan resmi" yang bekerja dalam senyap, namun dampaknya lebih destruktif daripada ribuan parang warga biasa.
Narasi "Silahkan Kalian Rusak Hutan Indonesia" terdengar seperti sarkasme paling pahit yang pernah kita telan. Namun, mari kita jujur, bukankah itu yang sedang terjadi di depan mata kita, "Mas Bro"?
Gergaji Birokrasi
Mari kita bedah simbolismenya. Di negeri ini, perusak hutan yang paling berbahaya jarang sekali memegang chainsaw secara harfiah. Mereka tidak perlu berkotor-kotor di lapangan. Senjata mereka jauh lebih elegan dan mematikan: pena, stempel, dan lembaran regulasi.
Para pria berjas dalam imajinasi kita itu adalah metafora dari kebijakan yang "melegalkan" deforestasi. Ketika alih fungsi lahan dilabeli sebagai "Proyek Strategis Nasional," atau ketika izin tambang dan sawit diobral di atas meja-meja mahoni berpendingin ruangan, saat itulah gergaji mesin yang sesungguhnya mulai menderu.
Mereka memotong pohon bukan dengan rantai besi, melainkan dengan revisi undang-undang yang melemahkan perlindungan lingkungan. Mereka membabat paru-paru dunia bukan dengan kapak, melainkan dengan argumen "pertumbuhan ekonomi" dan "iklim investasi."
Bencana yang Dicuci Bersih
Faktanya berbicara tanpa tedeng aling-aling. Data deforestasi kita mungkin diklaim menurun di satu tahun, namun kualitas tutupan hutan primer terus tergerus. Hutan alam disulap menjadi hutan tanaman industri (monokultur). Di atas kertas, itu masih "hijau". Tapi bagi ekosistem? Itu adalah gurun hijau yang miskin hayati.
Para "penebang berdasi" ini seringkali lupa—atau pura-pura lupa—bahwa alam tidak mengenal kompromi politik. Banjir bandang yang menyapu pemukiman, tanah longsor yang menimbun desa, dan suhu udara yang kian memanggang kulit kita bukanlah takdir Tuhan semata. Itu adalah "residu" dari tanda tangan mereka.
Lucunya, ketika bencana datang, narasi yang muncul adalah "cuaca ekstrem" atau "fenomena alam." Jarang sekali ada jari telunjuk yang mengarah pada peta konsesi lahan yang tumpang tindih dengan daerah resapan air. Seolah-olah, bencana itu berdiri sendiri, terpisah dari keputusan mengetuk palu di gedung parlemen atau kantor kementerian.
Warisan Beton dan Sawit
Kalimat "Silahkan Kalian Rusak Hutan Indonesia" sejatinya adalah tantangan bagi nurani kita. Jika hutan ini habis, apa yang akan diwariskan oleh bapak-bapak berjas itu kepada cucu mereka? Tentu saja, rekening gendut dan aset properti di luar negeri. Namun, bagi rakyat jelata? Warisannya adalah air tanah yang kering, udara yang beracun, dan tanah yang tak lagi mampu menumbuhkan harapan.
Kita sedang menonton sebuah pertunjukan teater absurd. Di panggung depan, mereka berpidato tentang Green Economy dan Net Zero Emission dengan setelan jas seharga motor baru. Tapi di belakang panggung, tangan mereka sibuk melumasi mesin-mesin industri ekstraktif yang menggerogoti sisa hutan tropis kita.
Jadi, gambar pejabat berjas memegang gergaji mesin itu bukanlah sekadar karikatur. Itu adalah potret dokumenter tentang bagaimana negara ini dikelola. Mereka menebang masa depan kita, batang demi batang, dengan senyum yang ramah dan prosedur yang "sah" secara hukum.
Silakan rusak. Tapi ingat, alam punya cara sendiri untuk menagih hutang, dan bunganya tak akan sanggup dibayar oleh APBN manapun.


