Dari TPAS ke Depan Rumah, Krisis Sampah Mulai Mengusik Warga Kota Metro
Kanalvisual.com - Metro Timur - Metro - Lampung | Dampak nyata dari penghentian sementara layanan pengangkutan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat Kota Metro. Sejumlah tumpukan limbah rumah tangga mulai menjadi pemandangan kumuh di depan rumah-rumah warga setelah berhari-hari tidak dievakuasi oleh petugas kebersihan.
Kondisi jomplang tersebut tidak hanya merusak estetika tata ruang kota, tetapi juga mulai memicu aroma busuk tidak sedap yang sangat menyengat hidung. Akibatnya, warga di berbagai kluster perumahan mulai dicekam rasa khawatir jika tumpukan sampah yang dibiarkan membusuk terlalu lama dapat memicu gangguan kesehatan lingkungan.

Keresahan ini salah satunya dirasakan oleh Julpi, seorang warga yang berdomisili di Jalan Kerinci 1, Kelurahan Yosorejo, Kecamatan Metro Timur. Ia membeberkan bahwa armada truk sampah terakhir kali menyambangi dan mengangkut limbah di lingkungannya pada Jumat (14/08/2026) lalu atau sebelum aksi pemboikotan terjadi.
Hingga Selasa (18/08/2026), tumpukan sampah domestik di sepanjang jalur pemukiman tersebut terpantau masih menggunung dan belum menyentuh penanganan instansi terkait. Volume sampah yang diproduksi setiap hari terus bertambah masif tanpa adanya kepastian kapan akan diangkut menuju tempat pembuangan akhir.

"Terakhir kali sampah di sini diangkut hari Jumat kemarin. Sampai hari Selasa ini bisa dilihat sendiri, sampah plastik dan sisa makanan terus menumpuk di depan rumah karena petugas tidak kunjung datang," keluh Julpi saat diwawancarai oleh jurnalis media ini.
Menurut Julpi, mandeknya sistem penanganan kebersihan ini mulai mengganggu kenyamanan aktivitas harian warga setempat. Paparan bau menyengat dari pembusukan sampah organik terasa kian pekat, terutama saat memasuki siang hari di mana suhu udara yang panas mempercepat proses pembusukan sisa rumah tangga.

Ia sangat mengkhawatirkan jika krisis pelayanan ini terus dibiarkan berlarut-larut oleh jajaran eksekutif, tumpukan sampah tersebut akan berubah menjadi sarang penyakit dan lalat. Kehadiran vektor penyakit di tengah pemukiman padat penduduk dinilai berpotensi besar memicu wabah diare hingga infeksi saluran pernapasan.
"Kami sangat khawatir jika kondisi ini memicu penyakit menular. Apalagi dalam kondisi musim panas seperti sekarang, bau menyengatnya sangat cepat menyebar ke dalam rumah. Kami mendesak pemerintah segera mencari solusi konkret agar sampah ini segera diangkut," ketusnya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, DLH Kota Metro terpaksa melumpuhkan total layanan pengangkutan sampah setelah warga sekitar melakukan aksi tutup paksa dan penyegelan akses menuju TPAS Karangrejo sejak Sabtu (15/08/2026). Boikot massal tersebut dipicu oleh akumulasi kekecewaan warga atas polusi bau yang tak kunjung diselesaikan pemda.
Hingga pertengahan pekan ini, DLH belum dapat memberikan jaminan atau memastikan kapan jadwal operasional truk pengangkut sampah kembali normal. Krisis ini membuktikan bahwa polemik TPAS Karangrejo bukan lagi sekadar urusan penolakan warga lokal, melainkan telah menjelma menjadi ancaman darurat kebersihan yang mengetuk pintu rumah setiap warga Kota Metro. (red/kv/tw)


