Gelar Pahlawan untuk Soeharto: Cermin Kedewasaan Bangsa
Kanalvisual.com – Opini - Gelombang pro dan kontra kembali mengemuka ketika wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, H. M. Soeharto, mencuat ke ruang publik. Sebagian kalangan menunjukkan dukungan penuh, sementara sebagian lainnya tampak gelisah, menolak dengan alasan sejarah kelam di masa Orde Baru.
Namun kegelisahan itu, sejatinya, wajar. Mereka yang menolak biasanya menilai sejarah dengan kacamata sempit—hanya fokus pada sisi gelap tanpa berani menengok jasa besar yang pernah beliau berikan bagi bangsa ini.
Padahal, pemberian gelar pahlawan bukanlah upaya menghapus kesalahan, apalagi menutup luka masa lalu. Gelar itu adalah bentuk pengakuan negara atas pengorbanan dan kontribusi yang nyata: menjaga stabilitas nasional pasca-kekacauan politik, membangun pondasi ekonomi yang kuat, hingga memperluas infrastruktur yang menjadi penopang lahirnya Indonesia modern.
Soeharto bukan tanpa cacat. Tak ada pemimpin yang sempurna—bahkan Soekarno pun pernah mengambil keputusan kontroversial. Tetapi bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menilai sejarah secara utuh, bukan hanya dari satu warna. Kita belajar dari keberhasilan sekaligus dari kesalahan, bukan dari dendam yang terus dipelihara.
Jika Soekarno dikenang sebagai penggagas kemerdekaan dan ideologi, maka Soeharto patut dikenang sebagai arsitek stabilitas dan pembangunan nasional. Dua-duanya bagian dari mozaik sejarah bangsa, saling melengkapi dalam perjalanan panjang Republik ini.
Kita jangan bodoh dengan menutup sejarah apa yang telah diperbuat beliau selama memimpin bangsa ini selama 32 tahun. Tidak semua warisan harus dicaci; banyak yang justru menjadi pijakan bagi kemajuan kita hari ini.
Menolak pengakuan atas jasa Soeharto dengan alasan dosa masa lalu, sama saja dengan menolak belajar dari sejarah. Gelar pahlawan untuk Soeharto tidak akan menghapus catatan kelam Orde Baru, tetapi justru menjadi pengingat bahwa bangsa ini mampu dewasa—mampu menilai pemimpinnya secara adil dan berimbang.
Bangsa yang terus hidup dalam dendam, tak akan pernah tumbuh menjadi bangsa yang besar.
Sebaliknya, bangsa yang berani menilai sejarahnya secara utuh, itulah bangsa yang matang dan berdaulat atas ingatannya sendiri.
(Tri wahyudi - Kaperwil Riau)


