Perpisahan Sekolah : Antara Tradisi, Beban dan Keselamatan yang Terabaikan
Oleh : Tri Wahyudi, Aktivis Peduli Bumi Pertiwi
Kanalvisual.com - Pekanbaru, Riau - Fenomena perpisahan sekolah di Indonesia seharusnya menjadi momen bahagia dan penuh kenangan. Namun kenyataannya, banyak kasus justru mencoreng makna momen tersebut.
Peristiwa tragis seperti kecelakaan maut yang menimpa Siswa/i dan Guru SMK Lingga Kencana dalam sebuah Study Tour menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan kita. Nyawa melayang bukan karena konflik atau kriminalitas, tetapi karena kelalaian dalam manajemen kegiatan yang sejatinya bertujuan menyenangkan. Dan hal serupa juga terjadi di beberapa daerah, seperti yang kita ketahui di berbagai media.
Ironisnya, setelah kejadian tersebut, barulah muncul reaksi keras dari otoritas pendidikan seperti dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang langsung melarang perpisahan di luar sekolah. Ini menunjukkan bahwa sistem kita masih lebih bersifat reaktif daripada preventif. Haruskah selalu menunggu korban sebelum membuat kebijakan yang berpihak pada keselamatan?
Masalah lain yang tak kalah penting adalah beban biaya perpisahan yang sering kali memaksa orang tua menguras tabungan, bahkan berutang. Hanya demi glamor satu hari yang kadang tak berdampak signifikan pada masa depan anak-anak mereka. Apakah benar ini bentuk apresiasi? Atau justru kita sedang mempertontonkan budaya pamer di tengah kondisi ekonomi yang tak merata?
Sebagian pihak mulai menggugat pentingnya acara perpisahan di jenjang sekolah dasar dan menengah. Mereka menilai acara seperti itu kurang relevan dan hanya menambah beban, baik secara psikologis maupun finansial. Tapi tentu, tidak semua pihak sepakat. Ada juga yang menilai perpisahan sebagai momen penting untuk menjalin ikatan emosional terakhir antara Siswa/i, Guru dan Sekolah.
Namun, kita harus objektif: jika pelaksanaannya malah menimbulkan risiko nyawa dan beban ekonomi, sudah saatnya kita mengevaluasi ulang praktik ini. Tradisi tidak harus dilestarikan jika lebih banyak mudarat dari pada manfaatnya.
Sudah waktunya perpisahan sekolah dikembalikan pada esensinya; sederhana, aman dan berkesan. Tanpa embel-embel komersialisasi, tanpa mengorbankan keselamatan dan akal sehat. Sekolah dan orang tua harus duduk bersama, mencari format yang mendidik dan membahagiakan tanpa menjadikan anak-anak dan keluarga sebagai korban.
Jika tidak, maka perpisahan sekolah akan terus menjadi ironi yang menyakitkan, dirayakan dengan air mata, bukan tawa. Senin (21/04/2025). (Wes).


