Harga Minyak Dunia Turun 2% Imbas Pengetatan Covid-19 di Tiongkok
Harga minyak dunia turun menyusul pernyataan pejabat Tiongkok pada akhir pekan menegaskan soal komitmen mereka terhadap pengetatan terhadap Covid-19.
JawaPos.com – Harga minyak turun lebih dari 2 persen pada awal perdagangan Senin, (7/11). Ini terjadi setelah pejabat Tiongkok pada akhir pekan menegaskan soal komitmen mereka terhadap pengetatan terhadap Covid-19.
Adapun imbasnya, menghancurkan harapan permintaan minyak di produsen utama dunia. Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun USD 1,58, atau 1,6 persen menjadi USD 96,99 per barel pada 2336 GMT.
Harga tersebut menurun setelah mencapai angka terendah sebesar USD 96,50 sebelumnya. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) berada di USD 90,84 per barel.
Harga minyak WTI tercatat turun sebanyak USD 1,77 atau 1,9 persen, harga tersebut turun ke sesi terendah USD 90,40 per barel di awal sesi.
“Harga minyak turun tajam karena pejabat Tiongkok berjanji untuk tetap berpegang pada kebijakan nol Covid sementara kasus yang terinfeksi naik dan dapat menyebabkan lebih banyak tindakan pembatasan, menggelapkan prospek permintaan,” kata analis CMC Markets Tina Teng.
Ia juga mengatakan, lonjakan dolar AS juga membebani harga minyak. Meskipun, pembuat kebijakan Federal Reserve pada hari Jumat mengindikasikan mereka akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga yang lebih kecil pada pertemuan kebijakan berikutnya meskipun data pekerjaan kuat.
Untuk diketahui, Brent dan WTI naik minggu lalu, masing-masing naik 2,9 persen dan 5,4 persen karena desas- desus tentang kemungkinan berakhirnya penguncian Covid-19 yang ketat mengirim pasar saham dan harga komoditas Tiongkok lebih tinggi meskipun tidak ada perubahan yang diumumkan.
Namun, pada konferensi pers pada hari Sabtu, pejabat kesehatan mengatakan mereka akan bertahan dengan pendekatan “pembersihan dinamis” mereka untuk mencapai nol kasus Covid.
Data perdagangan dari ekonomi Tiongkok pada Senin menunjukkan penurunan lebih lanjut dalam ekspor karena permintaan global terus melemah.
“Pasar masih menghadapi tanda-tanda melemahnya permintaan minyak dari harga yang sudah tinggi dan latar belakang ekonomi yang lemah di pasar negara maju,” kata analis ANZ dalam sebuah catatan, menambahkan permintaan di Eropa dan Amerika Serikat telah turun kembali ke level 2019.
“Kami sekarang memperkirakan permintaan global pada Kuartal 4/2022 tumbuh hanya 0,6 mb/d (juta barel per hari) dari kuartal yang sama tahun lalu dan menjadi moderat tahun depan,” pungkasnya.


