IHSG dan Mata Uang Garuda Nyungsep Disikut Sentimen Global

IHSG dan rupiah akhirnya tergoyahkan pada pekan ini. Kemarin IHSG finis di zona merah mendekati angka psikologis 7.000.

IHSG dan Mata Uang Garuda Nyungsep Disikut Sentimen Global

JawaPos.com – Ketangguhan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan rupiah akhirnya tergoyahkan pada pekan ini. Kemarin IHSG finis di zona merah mendekati angka psikologis 7.000. Terkontraksi 0,5 persen atau turun 35,42 poin, akhirnya ditutup pada posisi 7.077,03.

Sementara itu, menurut data Refinitiv, rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) jeblok hingga 0,93 persen ke Rp 15.260 per USD. Alhasil, mata uang RI menjadi yang terburuk kedua di Asia. Hanya lebih baik daripada won Korea Selatan (KRW) yang merosot hingga 1,22 persen.

Research Analyst BNI Sekuritas Maxi Liesyaputra menyatakan, penurunan IHSG dipengaruhi bursa Asia-Pasifik yang mengalami pergerakan cenderung datar (mixed). Setelah Wall Street mencatat penurunan pada malam sebelumnya.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,43 persen. Begitu juga dengan S&P 500 yang turun 0,21 persen.

Dari pasar obligasi, yield (imbal hasil) treasury 10 tahun AS naik menjadi 4 persen. Angka tersebut tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

Sementara itu, untuk sentimen dari Asia, data industri Tiongkok melaporkan penurunan profit hingga 2,1 persen secara year-on-year (YoY) dalam delapan bulan pertama di 2022.

“Selain itu, penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (USD) terhadap yen Jepang (JPY), euro (EUR), dan rupiah (IDR) menjadi sentimen negatif pasar saham,” kata Maxi.

Isu resesi menyeruak akibat pengetatan moneter sejumlah bank sentral negara-negara di dunia. Terutama peningkatan suku bunga yang agresif. Hal itu membuat rupiah dan mata uang Asia drop. Maklum, USD merupakan aset safe haven ketika krisis.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam agenda APBN KITA menyampaikan, resesi dipicu inflasi yang tinggi karena harga pangan dan energi di sejumlah negara meroket. Khususnya Eropa dan AS.

Inflasi tinggi memicu bank sentral di sejumlah negara maju menaikkan suku bunga dan mengetatkan likuiditas. Tak ayal, kebijakan tersebut akan berdampak bagi pertumbuhan ekonomi dunia. Bahkan, negara berkembang, termasuk Indonesia, akan merasakan imbasnya.

“’Kenaikan suku bunga bank sentral di negara maju cukup cepat dan ekstrem dan memukul pertumbuhan negara-negara tersebut,” terang perempuan yang akrab disapa Ani itu.

Pada pekan lalu, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day (Reverse) Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,25 persen. Kenaikan itu adalah dua kali berturut-turut dalam sebulan ini. Keputusan tersebut sebagai langkah memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Apalagi setelah The Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan Fed Fund Rate 75 bps di rentang 3 persen–3,25 persen. Angka tersebut diperkirakan masih meningkat ke depan. “Perkembangan tersebut mendorong semakin kuatnya mata uang dolar AS (USD) dan semakin tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

PERGERAKAN IHSG DAN RUPIAH TERHADAP USD SEPEKAN INI

| IHSG | USD

Kamis (22/9) | 7.218,91 | Rp 15.023

Jumat (23/9) | 7.178,58 | Rp 15.037,5

Senin (26/9) | 7.127,5 | Rp 15.129,5

Selasa (27/9) | 7.112,45 | Rp 15.124

Rabu (28/9) | 7.077,03 | Rp 15.266,5

Diolah dari berbagai sumber