Pembangunan SMAN 17 Pekanbaru Dinilai Abaikan Kajian, LSM Gakorpan: Hentikan Demi Keselamatan
Kanalvisual.com – Pekanbaru – Riau - Pekanbaru – Sorotan terhadap pembangunan SMA Negeri 17 Pekanbaru semakin tajam. Setelah sebelumnya ditemukan banyak kejanggalan mulai dari lokasi sekolah yang berada di bawah jalur transmisi listrik hingga lemahnya pengawasan proyek, kini kritik datang lebih keras dari Ketua DPD Gakorpan Riau, Rahmad Panggabean. Ia menilai pembangunan tersebut dilakukan tanpa kajian matang, seolah-olah digampangkan, padahal menyangkut masa depan generasi penerus bangsa.
Menurut Rahmad, pembangunan SMAN 17 seharusnya melewati berbagai kajian teknis dan perencanaan mendalam. Faktanya, jalur transmisi listrik Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) sudah lebih dahulu ada dibandingkan rencana sekolah. Dengan kondisi itu, pihak Dinas Pendidikan Riau seharusnya berpikir bijak dan memilih lokasi aman, bukan justru membangun sekolah di bawah bentangan kabel transmisi yang berisiko.

“Seharusnya pembangunan gedung SMAN 17 harus melewati kajian, jangan main asal bangun. Apalagi dibangun di bawah jalur transmisi, apakah pihak Disdik Riau memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Ini sangat kita sesali. Pembangunan transmisi sudah ada lebih dulu, maka mestinya mereka bisa berpikir bijak, jangan menggampangkan. Ini menyangkut peningkatan SDM penerus bangsa,” tegas Rahmad.
Rahmad juga menyinggung status lahan SMAN 17 yang berasal dari hibah masyarakat. Menurutnya, hibah adalah hal positif dan patut dihargai, tetapi pemerintah tidak boleh asal menerima tanpa menilai kelayakan lokasi. “Kita tidak bisa menolak pemberian hibah, tapi harus dilihat dulu posisinya. Jangan dipaksakan seperti ini. Kalau tanah hibah ternyata berada di bawah jalur transmisi listrik, jelas berbahaya. Saran saya, pembangunan ini lebih baik dihentikan saja demi keselamatan anak-anak yang kelak menggunakan gedung SMAN 17,” ujarnya.

LSM Gakorpan menilai persoalan ini bukan hanya soal teknis bangunan, tetapi juga menyangkut cara pemerintah daerah mengambil keputusan. Dengan anggaran miliaran rupiah yang sudah digelontorkan, sekolah tetap belum bisa dipakai, sementara risiko keselamatan terus menghantui. Kondisi ini menunjukkan lemahnya perencanaan, minimnya pengawasan, serta terabaikannya asas kehati-hatian dalam pembangunan fasilitas pendidikan.
Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa gedung SMAN 17 masih kosong, minim meubeler, akses jalan sulit, dan lingkungan belum mendukung kegiatan belajar-mengajar. Ditambah dengan keberadaan jalur transmisi listrik di atas gedung, sekolah ini jauh dari kata layak untuk segera ditempati. Meski Disdik Riau berencana memindahkan siswa ke gedung tersebut pada akhir September 2025, banyak pihak menilai langkah itu tergesa-gesa dan tidak menjawab persoalan pokok.

Rahmad menegaskan, LSM Gakorpan tidak menolak pembangunan sekolah, tetapi menuntut agar semua proses dijalankan sesuai aturan dan dengan pertimbangan keselamatan. “Kita ingin anak-anak kita belajar di tempat yang aman dan layak. Kalau lokasi hibah tidak memenuhi syarat keselamatan, jangan dipaksakan. Negara harus hadir melindungi generasi bangsa, bukan membiarkan mereka belajar di bawah ancaman bahaya,” pungkasnya.
Polemik pembangunan SMAN 17 Pekanbaru kini menjadi cermin kegagalan tata kelola pembangunan pendidikan di daerah. Kasus ini memperlihatkan bagaimana anggaran bisa terserap tanpa hasil nyata, sementara siswa tetap menumpang di gedung lain. Pertanyaan besar pun muncul: sampai kapan pembangunan sekolah dilakukan tanpa kajian matang, dan kapan pemerintah benar-benar menempatkan keselamatan serta masa depan siswa di atas segala kepentingan? (Tim)


