Tahun Depan, Ekonomi Bakal Menantang
Pelemahan rupiah terjadi lantaran ketidakpastian pasar keuangan global. Imbas dari kenaikan suku bunga acuan The Fed.
JawaPos.com – Bank Indonesia (BI) optimistis pertumbuhan ekonomi nasional kuartal III 2022 masih di atas 5 persen. Meski, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mewanti-wanti perekonomian 2023 masih diselimuti awan gelap. Sejumlah strategi stabilisasi kebijakan tengah disiapkan untuk mendorong pertumbuhan.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Wahyu Agung Nugroho optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal II 2022 akan tumbuh 5,5 persen. Proyeksi tersebut seiring permintaan domestik yang meningkat. Ditambah, fundamental perekonomian Indonesia yang cukup tangguh menahan tekanan global.
“Kondisi fundamental kita sangat kuat. Hanya memang masih kalah dengan Vietnam. Tapi dibanding negara lain, kita lebih bagus dari sisi pertumbuhan,” ucap Wahyu dalam pelatihan di Padma Resort, Ubud, Gianyar, Bali, akhir pekan lalu.
BI memproyeksi ekonomi Indonesia di akhir tahun ini akan tumbuh kisaran 4,5 persen sampai 5,3 persen. Meski, dia mengakui prospek ekonomi global 2023 akan lebih rendah. Yakni, berkisar 2,8 persen hingga 2,7 persen.
Terkait prospek global yang lebih rendah itu, bank sentral telah berkoordinasi dengan pemerintah mengukur langkah-langkah mitigasinya. Kebijakan moneter yang ditempuh selalu bersifat pro-stability. Selain itu, juga mengarahkan kebijakan moneter untuk stabilitas keuangan.
Wahyu menyebut, kebijakan makroprudensial akan tetap longgar mendukung pertumbuhan kredit perbankan. Begitu pula, kegiatan digitalisasi sistem pembayaran tetap akomodatif.
Dua kebijakan lainnya, pedalaman pasar uang dan pengembangan ekonomi inklusif tetap mendorong pertumbuhan ekonomi. “Stabilitas kebijakan moneter dan pro growth dalam instrumen lain,” tegas alumnus Universitas Diponegoro itu.
Pihaknya, akan selalu berkoordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Dalam forum tersebut terdapat sejumlah program prioritas mendorong pemberian kredit pada 46 sektor prioritas. Berdasarkan studi, 46 subsektor itu memiliki multiplier besar pada pertumbuhan ekonomi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.
“Kami yakin tahun ini pertumbuhan ekonomi 4,5 persen sampai 5,3 persen. Tentunya bias ke atas dan ini masih konsisten dengan apa yang disampaikan Pak Jokowi,” jelas Wahyu.
Di sisi lain, pelemahan rupiah terjadi lantaran ketidakpastian pasar keuangan global. Imbas dari kenaikan suku bunga acuan The Fed. Akibatnya, indeks dolar AS (DXY) semakin perkasa.
Hal itu lantas mengganggu aliran investasi portofolio dan tekanan nilai tukar di negara-negara emerging market. Termasuk Indonesia.
“Kalau kita lihat USD menguat. Tapi ini tidak hanya khusus Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Tecermin dari indikator dolar posisinya meningkat sampai 112. Ini level cukup tinggi,” terangnya.
BI mencatat nilai tukar per 30 September 2022 terdepresiasi 2,24 persen point-to-point (PtP) dibanding dengan akhir Agustus 2022 lalu. Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI, pada 1 September 2022, rupiah berada di level Rp 14.884 per USD. Rupiah terus tertekan hingga menyentuh Rp 15.232 per USDpada 30 September 2022.
“Meski demikian, ini relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 8,65 persen, Malaysia 10,16 persen, dan Thailand 11,36 persen,” ungkap Wahyu.


