Banyak Hantaman Eksternal, IHSG Berpotensi Tinggalkan Level 7.000

Hans Kwee menuturkan, The Fed diperkirakan akan mendorong kisaran target suku bunga acuannya menjadi antara 4,75 persen dan 5,00 persen pada kuartal I 2023.

Banyak Hantaman Eksternal, IHSG Berpotensi Tinggalkan Level 7.000

JawaPos.com – Harapan pelaku pasar modal bahwa inflasi Amerika Serikat (AS) bakal segera terkendali dan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) kembali turun buyar. Federal Open Market Committee (FOMC) memproyeksi Fed Fund Rate (FFR) alias suku bunga acuan bisa mencapai 4,4 persen di akhir tahun ini. Sedangkan dari dalam negeri, pelaku pasar masih menanti pengumuman inflasi September hari ini.

Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee menuturkan, The Fed diperkirakan akan mendorong kisaran target suku bunga acuannya menjadi antara 4,75 persen dan 5,00 persen pada kuartal I 2023. Pernyataan tersebut tentu memupuskan harapan pelaku pasar yang memperkirakan bank sentral AS itu akan mulai memangkas suku bunga acuannya tahun depan. Dengan tujuan, untuk mengendalikan inflasi.

Sejumlah petinggi The Fed mendukung keputusan FOMC. Federal Reserve Bank of Chicago President Charles Evans menyatakan, bank sentral perlu menaikkan suku bunga setidaknya satu poin persentase alias 100 basis point (bps) tahun ini. Federal Reserve Bank of Minneapolis President Neel Kashkari menyebut, harus terus melakukan pengetatan sampai inflasi bergerak melemah.

“Komentar tersebut mengindikasikan bahwa The Fed masih akan tetap agresif dalam penetapan suku bunga acuan ke depan,” terang Hans kepada Jawa Pos, kemarin (2/10).

Guncangan ekonomi dunia saat ini tak lepas dari pandemi Covid-19 dan gangguan rantai pasok global. Akibatnya, inflasi melonjak tinggi di berbagai negara, kenaikan suku bunga yang tajam, hingga perang Rusia-Ukraina yang tak dapat dipastikan ujungnya. Sehingga, berisiko menggiring ekonomi global ke dalam resesi.

Saat ini semua negara tengah menyelesaikan masalah inflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa. Termasuk, Indonesia yang saat ini masih cukup terkendali di angka 4,6 persen. Angka itu masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain.

Namun, kata Hans, seiring dengan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) subsidi diperkirakan inflasi Indonesia juga akan terkerek naik. Bank Indonesia (BI) memperkirakan pada September 2022 akan terjadi inflasi sebesar 1,10 persen month-to-month (MtM). Komoditas utama penyumbang inflasi yaitu BBM sebesar 0,91 persen MtM.

Kemudian diikuti angkutan dalam kota sebesar 0,06 persen MtM. Sedangkan, angkutan antar kota, rokok kretek filter, dan beras masing-masing sebesar 0,02 persen MtM.

Hans menilai, inflasi akan cenderung turun setelah tiga bulan mendatang. Namun BI nampaknya masih akan menaikan suku bunga acuan sebesar 50-100 bps sampai akhir tahun. Untuk menjaga nilai tukar dan spread suku bunga BI terhadap FFR.

“Inflasi dalam negeri yang lebih tinggi mungkin akan menjadi sentimen negatif pasar. IHSG berpotensi melemah dengan support di level 6.926 sampai level 6.809 dan resistance di level 7.156 hingga level 7.252,” tandasnya.

Sementara itu, ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan inflasi bakal menguat di tengah penyesuaian. Secara tahunan, inflasi berkisar 6,08 persen YoY pada September. Inflasi inti juga terlihat terus menguat seirinh meningkatnya mobilitas dan dampak putaran kedua dari penyesuaian harga BBM.

“Diperkirakan (inflasi inti) sebesar 3,47 persen,” terang Faisal melalui pesan singkat.

Dia memperkirakan inflasi akan tetap tinggi di sisa 2022. Terutama disebabkan oleh membaiknya permintaan (demand-pull inflation) di tengah pelonggaran PPKM. Ditambah dengan kenaikan harga bahan pangan dan energi menyusul penyesuaian harga bensin dan solar bersubsidi (cost-push inflation).

Dampak kenaikan harga BBM diprakirakan tidak hanya memberikan first round effect pada administered price. Tapi juga second round effect terhadap barang dan jasa lainnya.

“Ini berarti inflasi utama dan inflasi inti dapat memanas secara signifikan setelah kenaikan,” imbuhnya.

Secara keseluruhan, Faisal memproyeksi tingkat inflasi akan mencapai 6,27 persen pada akhir tahun ini. Oleh karena itu, BI masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuannya. Setidaknya menjadi 5 persen.

-26 September: 7.127,503
-27 September: 7.112,449
-28 September: 7.077,031
-29 September: 7.036,198
-30 September: 7.040,798

Sumber: BEI