SMAN 1 Perhentian Raja Melangkah ke Adiwiyata Nasional, Warga Sekolah dan Masyarakat Sambut Antusias

SMAN 1 Perhentian Raja Melangkah ke Adiwiyata Nasional, Warga Sekolah dan Masyarakat Sambut Antusias

Kanalvisual.com - Kampar - Riau | SMA Negeri 1 Perhentian Raja, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, kini tengah bersiap menapaki babak baru dalam perjalanan panjangnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Sekolah yang telah meraih predikat Adiwiyata Tingkat Provinsi Riau sejak 2017 itu kini resmi diusulkan untuk meraih penghargaan Adiwiyata Tingkat Nasional — penghargaan bergengsi yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.

Perjalanan menuju Adiwiyata Nasional ini bukan lahir dari sekadar pemenuhan administrasi. Kesadaran kolektif tumbuh dari kondisi nyata lingkungan sekitar yang menuntut perhatian serius. Sekolah yang berada di kawasan rawan banjir ini menjadikan kepedulian lingkungan sebagai identitas yang hidup dalam keseharian, membentuk budaya yang melibatkan seluruh warga sekolah.

Antusiasme menyambut usulan ke tingkat nasional dirasakan oleh seluruh elemen, mulai dari siswa, guru, hingga masyarakat Perhentian Raja. Sosialisasi dilakukan secara intensif dengan memberikan pemahaman terkait standar penilaian Adiwiyata Nasional yang menargetkan nilai minimal 90 dari 100, melampaui standar tingkat provinsi.

Kepala SMAN 1 Perhentian Raja, Erni Gusti, M.Pd., menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil konsistensi panjang. Menurutnya, selama tujuh tahun terakhir, nilai-nilai peduli lingkungan telah menjadi bagian dari budaya sekolah, bukan sekadar program formal.

Dalam proses penguatan menuju penilaian nasional, dukungan dari berbagai pihak juga mulai terbangun. Termasuk dengan kehadiran ketum, Sunggul Manalu dan Sekum, Tri qahyudi dari Ormas LCI turut memberikan apresiasi terhadap langkah progresif sekolah dalam membangun kesadaran lingkungan sejak dini, sekaligus mendorong kolaborasi antara sekolah dan elemen masyarakat dalam menjaga ekosistem secara berkelanjutan.

Berbagai pembenahan terus dilakukan secara menyeluruh. Anggaran sekolah melalui BOSP dialokasikan untuk melengkapi sarana pendukung program lingkungan. Kebiasaan positif seperti Jumat Bersih, pungut sampah harian, hingga kegiatan gotong royong terus diperkuat sebagai bagian dari budaya kolektif.

Di sisi kurikulum, integrasi nilai Adiwiyata dilakukan tanpa mengurangi substansi pembelajaran. Guru menyisipkan edukasi lingkungan dalam berbagai metode, termasuk melalui praktik kreatif seperti pemanfaatan barang bekas menjadi alat peraga pengelolaan energi dan air.

Dampak dari program ini mulai dirasakan lebih luas. Kegiatan gotong royong di lingkungan masyarakat, penanaman pohon, hingga kebiasaan memilah sampah telah menjadi bagian dari perilaku siswa. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan yang diterapkan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjalar ke kehidupan sosial.

Dengan pondasi yang telah terbangun kuat, SMAN 1 Perhentian Raja optimistis melangkah menuju Adiwiyata Nasional. Lebih dari sekadar penghargaan, langkah ini menjadi bukti bahwa sekolah mampu melahirkan generasi yang peduli, sadar, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Red/kv/tw)