Tiga Hari Pengerjaan, Tanpa Pemadatan: Jejak Kejanggalan Proyek Timbunan Sirtu di Desa Baru

Tiga Hari Pengerjaan, Tanpa Pemadatan: Jejak Kejanggalan Proyek Timbunan Sirtu di Desa Baru

Kanalvisual.com – Kampar – Riau  (27/12/2025) - Proyek pengerasan Jalan Lingkar Desa Baru, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar menuai sorotan. Tim media Kanalvisual.com melakukan penelusuran lapangan berdasarkan informasi masyarakat yang mempertanyakan kualitas pekerjaan serta kesesuaian antara nilai anggaran dan realisasi di lapangan.

Berdasarkan papan informasi kegiatan, proyek tersebut bersumber dari dana PBH dengan nilai anggaran sebesar Rp 44.495.495. Pekerjaan mencakup pengerasan jalan sepanjang 150 meter dengan lebar 3 meter dan ketebalan 0,15 meter, dengan durasi pengerjaan tercantum selama 15 hari.

Secara teknis, dengan ukuran tersebut, kebutuhan material sirtu dihitung sekitar 67,5 meter kubik. Dalam praktik lapangan yang wajar, volume tersebut lazim ditambah toleransi susut dan pemadatan sekitar 10 hingga 15 persen. Dengan demikian, kebutuhan riil material sirtu seharusnya berada pada kisaran kurang lebih 74 hingga 78 meter kubik.

Namun, hasil penelusuran tim media di lapangan menunjukkan sejumlah perbedaan. Dari keterangan masyarakat setempat, material sirtu diketahui didatangkan menggunakan dump truck dengan kapasitas sekitar 6 meter kubik per unit, dengan harga sekitar Rp 1 juta per sekali angkut hingga lokasi.

Jika mengacu pada kebutuhan riil 74 hingga 78 meter kubik, maka estimasi kebutuhan dump truck berada di kisaran 12 hingga 13 rit, dengan estimasi biaya material sekitar Rp 12 juta hingga Rp 13 juta.

Di sisi lain, masyarakat juga menyampaikan bahwa pengerjaan di lapangan hanya berlangsung sekitar tiga hari. Aktivitas pekerja terlihat singkat dan tidak berlangsung selama 15 hari sebagaimana tertulis di papan proyek.

Tim media juga tidak menemukan indikasi adanya proses pemadatan material menggunakan alat berat maupun alat pemadat ringan seperti stamper kodok atau baby roller. Permukaan jalan yang telah dihampar sirtu masih menunjukkan jejak roda kendaraan dan alur memanjang, yang mengindikasikan material hanya diratakan tanpa melalui pemadatan teknis.

Berdasarkan informasi lapangan, pekerjaan dilakukan oleh sekitar empat orang tenaga kerja dengan upah harian Rp 150.000 per orang. Dengan durasi kerja sekitar tiga hari, estimasi biaya tenaga kerja berada di kisaran Rp 1,8 juta.

Dengan demikian, berdasarkan estimasi dan perhitungan sederhana dari temuan lapangan, total biaya riil pekerjaan, yang mencakup material sirtu dan upah tenaga kerja, diperkirakan berada pada kisaran Rp 14 juta hingga Rp 15 juta. Bahkan jika ditambahkan komponen pajak, total biaya diperkirakan tetap jauh di bawah nilai anggaran proyek.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik terkait kemungkinan adanya selisih anggaran yang cukup signifikan antara nilai proyek sebesar Rp 44,4 juta dan realisasi fisik di lapangan. Dugaan ini diperkuat oleh tidak terlihatnya tahapan teknis penting seperti pemadatan, serta perbedaan mencolok antara durasi kerja di lapangan dan yang tercantum dalam papan proyek.

Masyarakat Desa Baru mengaku khawatir hasil pekerjaan tidak akan bertahan lama, terutama saat musim hujan seperti bulan ini. Jalan yang tidak dipadatkan secara teknis dinilai berpotensi cepat rusak dan kembali sulit dilalui.

Hingga berita ini diterbitkan, tim media Kanalvisual.com masih berupaya meminta klarifikasi kepada Pemerintah Desa Baru dan pihak terkait lainnya mengenai rincian penggunaan anggaran, volume material yang digunakan, serta metode pelaksanaan pekerjaan. Redaksi Kanalvisual.com membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak-pihak terkait sesuai ketentuan Undang-Undang Pers.

Kanalvisual.com akan terus memantau dan menelusuri perkembangan proyek ini sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial dan pengawasan publik terhadap penggunaan anggaran negara dan daerah. (Redaksi)