Murni Masalah Pribadi, Jangan Kaitkan dengan Politik, Ini Kata Keluarga Pelaku
Kanalvisual.com - RohiL, Riau - Keluarga terduga Pelaku penganiayaan di Cafe Teman Ngopi, Jalan Merdeka Bagansiapiapi yang terjadi pada Rabu, (25/09/2024), Hendri selaku abang mewakili keluarga angkat suara dan berikan penjelasan.
Disampaikan Hendri, selaku abang dari terduga Pelaku, meluruskan kabar yang berkembang di media terkait penyebab kejadian yang telah menimpa salah seorang dari Tim pemenangan salah satu Paslon.
Penjelasan ini disampaikan oleh Hendri yang merupakan abang terduga Pelaku mewakili keluarga yang 0didampingi Rahmad Hidayat, S.H selaku Kuasa Hukum Pelaku.
Dalam keterangannya menyampaikan, mereka sangat menyesalkan atas narasi berlebihan yang dibangun dalam pemberitaan di beberapa media online yang terbit hari ini dan mengait-ngaitkan permasalahan pribadi dengan politik.
Karena dalam narasi sebuah pemberitaan dituliskan, "diduga kuat, oknum salah satu Tim pemenangan Paslon Bupati Rokan Hilir nomor Urut 1, ASSET yang bernama Zulfan Asnandahlan nyaris kehabisan nafas setelah dicekik Putra Zali salah seorang Anggota Tim Pemenangan Paslon nomor urut 2 (Bijak)", tulisan di salah satu media online.
Dalam hal ini pihak keluarga ingin meluruskan, penyebab permasalahan hingga terjadinya penganiayaan yang dilakukan oleh adiknya (putra Zali) terhadap Korban adalah masalah pribadi.
"Perlu kami tegaskan, bahwa peristiwa yang terjadi di Cafe tersebut bukan masalah Paslon Bupati dan Wakil Bupati Rohil atau Politik, tetapi murni masalah pribadi," jelas Hendri.
Untuk diketahui ungkap Hendri, pada malam Selasa (24/09/2024), adiknya (putra Zali) duduk bersama rekannya di Cafe teman. Saat akan memesan minuman, terlihat Korban sedang duduk di meja agak jauh dari tempat adiknya.
Saat ditemui, korban sedang duduk dengan posisi dirangkul, kemudian Korban berdiri hingga terjadi memiting selama 15 detik. Hal tersebur dijelaskan Hendri menirukan perkataan Putra Zali yang diketahuinya setelah bertemu di Polsek Bangko.
"Memiting leher cuman 15 detik, kemudian dilerai oleh Pengunjung dan Karyawan Cafe. Setelah kejadian itu, adik Saya kembali duduk dan Korban juga duduk. Malah Korban sempat mengajak adik saya untuk berkelahi,0 namun adik Saya (putra zali) diam dan ditahan oleh rekan-rekannya," jelas Hendri menggaris bawahi.
"Kalau korban mengalami muntah-muntah dan sampai timbul luka memar di bagian leher, itu tidak benar, terkesan berlebihan," ucap Hendri kepada Awak Media.

Sementara dalam pemberitaan yang beredar, dituliskan, Dana dan Riki Dermawan teman Zulfan sempat melerai kejadian itu. Namun, Putra Zali tidak mengindahkannya hingga Zulfan sempat mengalami muntah-muntah dan mengakibatkan luka memar di bagian leher. Dari kejadian tersebut, akhirnya Zulfan Asnan Dahlan harus dilarikan ke RSUD untuk menjalani proses penyembuhan.
Ditambahkan Hendri, narasi yang dibuat dalam pemberitaan terlalu berlebihan dan terkesan dibesar - besarkan alur cerita, diduga tidak sesuai dengan fakta.
"Kalau muntah-muntah saat dicekik di lokasi kejadian dan langsung dilarikan ke rumah sakit, kenapa bisa setelah dipiting dan dilerai si Korban langsung menantang adik saya.. ? logikanya tidak mungkin," kata Hendri kepada awak media pada Rabu (25/09/2024).
Lebih lanjut dijelaskannya, peristiwa ini terjadi karena ada penyebab yang tak kunjung selesai dan perlu digaris bawahi, bukan masalah politik.
Diketahui, Korban selama ini selalu memancing amarah Putra Zali dengan berkomentar, tidak ada tempat bagi pengkhianat, setiap kali Putra Zali memposting Story di WhatsApp yang salah satu tulisannya terjadi pada tanggal 1 September 2024 lalu.
"Puncak masalahnya adalah masalah status di WhatsApp, antara Korban dan Putra Zali yang dituliskan di chat "penghianat" pada 1 September 2024," terang Hendri.
Berdasarkan pengakuan Putra Zali kepada abangnya, Hendri, bahwa kejadian tersebut terjadi secara refleks alias spontan, tanpa ada niat atau itikad buruk.
"Untuk itu, Saya selaku keluarga berharap, kepada awak media untuk membuat pemberitaan secara berimbang, jangan menjustice tanpa ada konfirmasi dan opini serta terkesan menghakimi," ujarnya.
"Untuk itu Saya tegaskan fakta yang sebenarnya bukan seperti yang diberitakan dan terlalu dibesar besarkan," jelas Hendri mengakhiri penjelasannya.


