SMAN 17 Pekanbaru, Gedung Miliaran Bermasalah tapi Murid Tetap Berjuang dalam Keterbatasan

SMAN 17 Pekanbaru, Gedung Miliaran Bermasalah tapi Murid Tetap Berjuang dalam Keterbatasan

Kanalvisual.com – Pekanbaru – Riau - Pekanbaru – Polemik pembangunan SMA Negeri 17 Pekanbaru kembali mengemuka. Gedung yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah sejak 2023 hingga kini belum bisa difungsikan, berdiri di bawah jalur transmisi listrik yang menuai kontroversi, dan masih menyisakan berbagai persoalan teknis. Namun di balik sorotan tajam terhadap proyek bermasalah itu, lebih dari 400 murid tetap berjuang menuntut ilmu dengan segala keterbatasan.

Bangunan sekolah yang terletak di Jalan Fajar Raya, Pekanbaru, berdiri di atas lahan hibah masyarakat, namun lokasinya berada tepat di bawah jalur transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT). Hal ini memunculkan kekhawatiran serius terkait aspek keselamatan, mulai dari potensi loncatan listrik hingga paparan medan elektromagnetik. Temuan LSM Gakorpan DPD Riau juga menyoroti lemahnya pengawasan Disdik Riau terhadap kontraktor, ketiadaan direksi keet, serta pemanfaatan ruang kelas kosong sebagai gudang kontraktor.

Meski demikian, di sisi lain, kehidupan para siswa SMAN 17 jauh dari kata mudah. Kepala Sekolah Elmida mengungkapkan, sekitar 70 persen orang tua murid berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah, bahkan banyak yang bekerja di sektor informal seperti pemulung, tukang ojek, pedagang pasar, hingga penyortir bawang dan cabai di pasar induk. Tak jarang siswa ditanggung oleh keluarga besar karena orang tua tidak mampu, atau bahkan sudah yatim-piatu.

Dalam kondisi serba terbatas, proses belajar-mengajar tetap berlangsung dengan menumpang di gedung Wisma PGRI Riau di Jalan Delima, Binawidya, memasuki tahun ketiga. Elmida menegaskan, murid SMAN 17 bergantung penuh pada guru karena tidak ada yang mampu mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. “Perlakuan kita berdasarkan kemampuan anak, sesuai dengan kompetensi yang ada pada diri siswa. Sekolah berupaya keras memotivasi mereka agar tetap semangat belajar,” ujarnya.

Kendati penuh keterbatasan, prestasi siswa SMAN 17 tetap membanggakan. Pada akhir 2024, tim debat sekolah ini bahkan berhasil masuk empat besar lomba Debat Konstitusi se-Sumatera, mengharumkan nama Pekanbaru di tingkat regional. Fakta ini memperlihatkan bahwa semangat belajar tidak pernah padam meski sarana dan prasarana jauh dari ideal.

Ketua DPD Gakorpan Riau, Rahmad Panggabean, menilai kontras antara gedung bermasalah  dan murid berprestasi ini harus menjadi tamparan bagi pemerintah. “Gedung miliaran rupiah yang dibangun asal-asalan akhirnya mubazir, sementara anak-anak dari keluarga tidak mampu tetap berjuang dalam kondisi sulit. Pemerintah seharusnya berpikir bijak sebelum membangun sekolah di lokasi yang jelas berisiko. Jangan korbankan masa depan anak bangsa hanya karena perencanaan yang sembrono,” tegasnya.

Polemik SMAN 17 Pekanbaru menunjukkan wajah ganda pembangunan pendidikan: di satu sisi ada bangunan fisik yang menyisakan masalah hukum, teknis, dan keselamatan; di sisi lain ada semangat anak-anak yang tetap menuntut ilmu meski harus menumpang di gedung lain. Masyarakat kini menunggu langkah konkret pemerintah untuk memastikan gedung sekolah layak difungsikan, aman, dan benar-benar memberi manfaat bagi siswa yang menjadi penerus bangsa. (Tim Media Gakorpan)